Ternyata Faktor Lingkungan dan Pola Asuh Orangtua Berpengaruh terhadap Kasus Pneumonia pada Anak

Desember 19, 2018

Pola asuh yang baik dapat mencegah pneumonia pada anak, sumber foto : unsplash
Beberapa waktu yang lalu sempat viral sebuah postingan di sosial media tentang seorang ibu muda yang kehilangan bayinya yang didiagnosis pneumonia akibat menghirup asap rokok. Muhammad Hafizh Syawal, nama bayi lucu itu. Di halaman Facebooknya, sang ibu bercerita, malam itu sedang diadakan acara aqiqah Hafizh anaknya, disitulah awal mula Hafizh terpapar asap rokok yang berasal dari para tamu yang hadir.

"Akhirnya pada malam acara itu putraku Hafizh ku bawa ke ruang tamu. Karena banyak tamu yang ingin melihat hafizh, aku terlalu sibuk dengan tamu, sampai-sampai aku tak menyadari kalau ada orang yang sedang merokok. Awalnya Hafizh baik-baik saja tak ada kendala. Sampai 2 hari sesudah acara itu, hafizh batuk-batuk dan nafasnya tersendat sendat (sesak)," tulis Fitria, dalam unggahannya tertanggal 9 Agustus 2017.

Batuk-batuk dan sesak yang dialami Hafizh terus berlanjut hingga akhirnya Fitria dan sang suami membawa Hafizh ke dokter . Di rumah sakit, dokter menyatakan  Hafizh mengalami pneumonia berat dan harus dirawat inap. Setelah 2 hari menjalani  mendapat perawatan, Fitria menyebut kondisi Hafizh kian memburuk. Bahkan dokter mengatakan hasil rontgen paru-paru Hafizh sangat buruk akibat terpapar asap rokok. Selang 3 hari, tepatnya pada 30 Juli 2017, Hafizh pun dinyatakan meninggal dunia. Fitria tak kuasa menahan tangis, melepas kepergian sang putra tercinta yang usianya belum genap 2 bulan itu. Ah, ibu mana yang tidak sedih ketika seorang anak yang sangat dinantikan kehadirannya harus pergi untuk selama-lamanya.

Asap rokok, salah satu penyebab pneumonia, penyakit infeksi yang rentan dialami balita di dunia, terlebih di negara berkembang seperti Indonesia. Data UNICEF tahun 2015 menunjukkan, pneumonia masih menjadi penyebab kematian tertinggi pada anak balita. Pada tahun tersebut, 5,9 juta anak balita harus meregang nyawa dimana 15 persennya atau lebih dari 920 ribu balita meninggal karena pneumonia. Berdasarkan data ini, setidaknya dalam satu menit, ada dua anak balita yang meninggal karena penyakit infeksi paru-paru ini.

Tingginya angka kematian balita yang disebabkan oleh pneumonia ini mengundang keprihatinan dari banyak pihak, sehingga sosialisasi tentang penyakit mematikan ini harus terus diupayakan, salah satunya KBR sebagai penyedia program berita yang bekerja sama dengan Yayasan Sayangi Tunas Cilik Indonesia sebagai partner Save the Children yang beberapa waktu lalu mengadakan Talkshow Ruang Publik KBR mengenai Pneumonia. Acara ini disiarkan di lebih dari 100 radio jaringan KBR di nusantara.

Ruang Publik KBR yang membahas pneumonia pada anak, sumber foto : instagram kbr.id

Perbincangan ini menghadirkan 3 narasumber yakni, Sellina Patta Sumbung sebagai Ketua Yayasan Sayangi Tunas Cilik Indonesia, dr. Madeleine Ramdhani Jasin, Sp.A dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), serta Yati, seorang ibu yang anaknya didiagnosis mengalami pneumonia.

Dalam perbincangan tersebut dibahas mengenai gejala penyakit penumonia, bahaya, tindakan preventif yang bisa kita lakukan, serta program-program yang dilakukan Yayasan Sayangi Tunas Cilik Indonesia dalam upayanya untuk membantu mensosialisasikan perilaku hidup bersih dan sehat demi menekan tingginya angka penyakit pneumonia pada anak balita di Indonesia, karena tidak bisa dipungkiri, faktor orangtua dan lingkungan turut mempengaruhi tersebarnya infeksi paru ini.

Saya sebagai ibu yang memiliki 2 balita, serta berlatar belakang pendidikan kesehatan (Analis Kesehatan) memiliki tanggung jawab sosial untuk memberikan informasi dan edukasi mengenai infeksi paru mematikan ini, mengingat angka kematian akibat pneumonia di dunia terlebih di negara berkembang seperti Indonesia masih tinggi. Yuk, simak ulasannya dibawah ini !

Apa itu Pneumonia ?

Infeksi Pneumonia, sumber : unsplash.com


Pneumonia adalah penyakit infeksi yang menyerang paru-paru, sehingga menyebabkan kantung udara di dalam paru meradang dan membengkak yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, maupun jamur. Pneumonia bisa juga disebut sebagai radang paru, atau dalam bahasa awam disebut dengan paru-paru basah. Disebut dengan paru-paru basah karena paru-paru bisa saja dipenuhi oleh cairan atau lendir, dan istilah ini juga dibuat dalam rangka menjelaskan kepada masyarakat awam agar mudah dipahami.

Infeksi ini diawali dengan terganggunya sistem pernapasan bagian atas (hidung dan tenggorokan). Lalu infeksi tersebut akan bergerak menuju paru-paru, yang kemudian menghambat pergerakan udara dalam paru-paru, sehingga penderita akan mengalami kesulitan dalam bernapas

Penyakit pneumonia ini dapat dialami oleh siapa saja, dalam berbagai rentang usia. Namun pneumonia yang terjadi pada anak bisa sangat berbahaya bahkan bisa menyebabkan kematian. Terlebih pada anak yang berusia dibawah 2 tahun, karena daya tahan tubuhnya masih lemah, sehingga lebih mudah terinfeksi pneumonia.

Apa Saja Gejala Pneumonia pada Anak ?

sumber foto : unsplash.com
 Gejala pneumonia pada anak seringkali mirip dengan flu dan batuk biasa, namun ada gejala yang khas yakni sesak pada dada bahkan anak bisa saja mengalami kesulitan saat bernapas. Maka, jika anak kita mengalami batuk dalam jangka waktu yang lama disertai sesak napas, maka segera bawa ke klinik atau rumah sakit agar dokter segera melakukan diagnosis dan penanganan yang tepat.Selain itu, ada beberapa gejala lain yang perlu diwaspadai, diantaranya, demam, muntah, nafsu makan menurun, menggigil, berkeringat, batuk disertai darah atau lendir/dahak, serta nyeri sendi dan otot. 

Berbagai Komplikasi yang Muncul Akibat Pneumonia

Meski pneumonia bisa disembuhkan, namun ada kelompok yang beresiko terkena komplikasi akibat pneumonia, yakni lansia dan balita. 

Ada 3 komplikasi akibat pneumonia, diantaranya :

1. Bakteriemia yakni bakteri yang masuk ke aliran darah lalu menginfeksi sehingga menyebabkan terganggunya organ tubuh tertentu.
2. Abses paru atau paru-paru bernanah.
3. Efusi pleura atau adanya cairan yang menyelimuti paru-paru.


Pola Asuh Orangtua dan Lingkungan Berpengaruh terhadap Kasus Pneumonia pada Anak

Ada banyak faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya infeksi pneumonia pada anak, diantaranya faktor pola asuh orangtua dan lingkungan. Kita bisa mencegah pneumonia pada anak dengan mempelajari pola asuh yang tepat  serta menghindari anak dari lingkungan buruk yang memicu infeksi pneumonia.

A. Pola asuh

Pola asuh yang baik dapat mencegah pneumonia pada anak, sumber foto : unsplash

1. Memberikan ASI Ekslusif Hingga Usia 6 Bulan
Bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif selama 6 bulan akan memiliki daya tahan tubuh yang baik sehingga tidak rentan terkena berbagai penyakit infeksi. Hal ini tentu saja karena berbagai kandungan zat di dalam ASI yang berguna untuk meningkatkan antibody atau pertahanan tubuh terhadap berbagai infeksi.

2. Berikan Anak Makanan Sehat Begizi Seimbang
Orangtua harus memperhatikan asupan makanan untuk si kecil. Beri makanan sehat dengan berpedoman pada PGS (Panduan Gizi Seimbang), yang dalam setiap penyajiannya harus memenuhi unsur karbohidrat, protein hewani, protein nabati, serta sumber vitamin dan mineral.Perhatikan juga jumlah kalori yang dibutuhkan setiap harinya. Dengan mengonsumsi makanan sehat dan bergizi, tentu anak akan tumbuh sehat serta memiliki daya tahan tubuh yang baik untuk menangkal masuknya bakteri dan virus.

3. Pantau Terus Tumbuh Kembangnya !
 Terkadang banyak orangtua tidak menyadari adanya silent disease pada anak, salah satunya pneumonia ini. Berat badan yang sulit naik bahkan cenderung turun adalah salah satu "sinyal" bahwa sang anak tengah berjuang melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Untuk itu, sebagai orangtua kita harus terus memantau tumbuh kembang anak kita.

4. Berikan Vitamin A dan Imunisasi
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan pemberian vaksin untuk mencegah pneumonia, diantaranya pneumococcal conjugate vaccine (PCV) . Vaksin ini bisa melawan segala jenis penyakit akibat infeksi bakteri pneumokokus atau Streptococcus pneumoniae. Selain itu, untuk menurunkan resiko infeksi pneumonia, bisa juga dengan memberikan imunisasi campak, DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus), serta imunisasi HiB (Haemophylus influenzae type B). Selain imunisasi, sebaiknya anak juga diberikan vitamin A secara berkala untuk meningkatkan ketahanan tubuh terhadap infeksi pneumonia. 

5. Membiasakan Diri dan Keluarga dengan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat)
Kurangnya sosialisasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat di kalangan masyarakat, terutama masyarakat golongan menengah ke bawah, menyebabkan meningkatnya resiko terkena infeksi pneumonia. Untuk itu Yayasan Sayangi Tunas Cilik Indonesia terus berupaya aktif mensosialisasikan kepada masyarakat mengenai pentingnya membiasakan diri untuk hidup bersih dan sehat, diantaranya dengan mencuci tangan saat akan makan, setelah membersihkan tinja anak, saat akan menyusui, juga saat akan membuat makanan untuk anak. Meski terlihat sepele kebiasaan mencuci tangan dapat menurunkan angka penyebaran penyakit pneumonia pada anak. 

B. Faktor Lingkungan

1. Perhatikan Kebersihan Tempat Tinggal
Lingkungan yang bersih dan sehat mampu cegah pneumonia, sumber foto : unsplash
Sebagai orangtua kita jangan malas untuk membersihkan rumah kita, perhatikan ventilasi udara, pastikan rumah terjaga dari kelembaban. 

2. Jauhi Keluarga dari Asap Rokok

Pneumonia bisa disebabkan oleh asap rokok, sumber foto : unsplash

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, asap rokok dapat meningkatkan resiko terjadinya pneumonia pada anak. Karena sistem pertahanan tubuhnya yang masih rendah, balita yang sering terpapar asap rokok, dua sampai tiga kali lebih beresiko mengalami kerusakan mukosa, dimana organ paru-paru menjadi rusak karena sistem pertahanan alami saluran pernapasan yang jebol akibat asap rokok.

Meski merokok diluar rumah, namun residu rokok akan tertinggal di pakaian atau perlengkapan yang dikenakan saat merokok, sehingga saat masuk ke rumah, bisa saja si anak akan terpapar dengan residu tersebut. Untuk itu, pastikan lingkungan kita sehat, bersih, dan terbebas dari asap rokok.


Sekitar 50 persen kasus pneumonia disebabkan oleh infeksi bakteri streptococcus pneumoniae dan 20 persen disebabkan oleh influenza tipe B. Sisanya, bisa disebabkan oleh jamur dan virus lain.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pilihan Vaksin untuk Melindungi Anak dari Pneumonia", https://lifestyle.kompas.com/read/2016/11/21/073500023/pilihan.vaksin.untuk.melindungi.anak.dari.pneumonia.
Penulis : Dian Maharani

Sekitar 50 persen kasus pneumonia disebabkan oleh infeksi bakteri streptococcus pneumoniae dan 20 persen disebabkan oleh influenza tipe B. Sisanya, bisa disebabkan oleh jamur dan virus lain.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pilihan Vaksin untuk Melindungi Anak dari Pneumonia", https://lifestyle.kompas.com/read/2016/11/21/073500023/pilihan.vaksin.untuk.melindungi.anak.dari.pneumonia.
Penulis : Dian Mahara

Nah, bagaimana, sudah cukup jelas kan ulasan saya  mengenai pneumonia pada anak?,Ternyata, pneumonia sangat berbahaya, karena jika tidak cepat ditangani akan mengakibatkan komplikasi serius bahkan menyebabkan terjadinya kematian. Sebagai orangtua, kita memiliki peran penting untuk menjaga buah hati kita dari infeksi paru yang mematikan ini. Dimulai dengan mencari pengetahuan tentang pola asuh yang baik serta menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat. Semoga dengan meningkatnya kesadaran orangtua untuk berperilaku hidup bersih dan sehat, maka kematian akibat pneumonia dapat dicegah.







You Might Also Like

22 komentar

  1. Innalillahi, sedihnya :-(
    Memang itu fenomena di masyarakat kok, Mbak. Syukuran/tahlilan bapak2 biasanya banyak yg merokok. Suami pernah bicara pelan2 dg mereka, ga mempan. Alhasil, tiap Ada hndnagan syukuran gitu, suami memilih datang belakangan agar dapet di teras. Pas pulang, bajunya langsung direndam dan orangnya mandi. Demi anak.
    Pas anak saya aqiqah pun, kmai memilih mengundang jamaah ibu2. Aman :-)

    Btw, penjelasannya lengkap sekali. Terima kasih sudah mengingatkan. Insya Allah semua sedang terus berusaha diterapkan. Semoga Kita sekeluarga dan anak kita sehat selalu. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Meilawati Nurhani21 Desember 2018 18.46

      Sama2 mbak.. :D, iya sedih ya, banyak yg belum sadar bahwa merokok juga berbahaya bagi oranglain di sekelilingnya, apalagi anak kecil yg daya tahan tubuhnya belum kuat, memang harus terus disosialisasikan hal2 seperti ini mbak.. mudah2an anak2 kita terhindar dr berbagai penyakit berbahaya

      Hapus
  2. Iya Bund, ada teman saya yang anaknya kena pneumonia. Diindikasi karena tertular pengasuhnya yang punya penyakit ini. Terapinya bahkan sampai 2 tahun. Trims Infonya BUnda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Meilawati Nurhani21 Desember 2018 18.42

      Duh sedih ya mbak.. memang penyebarannya lewat udara jd lebih cepat, apalagi anak kecil lebih rentan terinfeksi pneumonia

      Hapus
  3. Terima kasih, banyak dan lengkap informasinya dan ilmunya mbak. Kadang sedih memang melihat orang yang merokok didekat anak kecil tanpa berfikir bahwa itu sangat membahayakan kesehatan abak tersebut😥

    BalasHapus
    Balasan
    1. Meilawati Nurhani21 Desember 2018 18.43

      Betul mbak.. saya juga mulai memberankkan diri menegur org yg merokok dekat anak saya kalau sedang di tempat umum

      Hapus
  4. Iya, Mbak memang kasus pneunemonia ini sering kali menimpa anak. Nah, itu juga soal merokok, saya paling enggak suka deket perokok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Meilawati Nurhani21 Desember 2018 18.47

      Betul mbak.. makanya sebaliknya rumah kita sebisa mungkin terhindar dari asap rokok

      Hapus
  5. Ya Allah, sedih banget ceritanya. Dan saya makin gemes sama para perokok.
    Lingkungan tempat tinggal kami alhamdulillah jauh dari asap rokok mba, tapi yang bikin galau itu kalo lagi pulang ke rumah ortu, bapak, paman dan adik laki2 saya pada ngerokok. Semoga Allah memberi mereka hidayah ya mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Meilawati Nurhani21 Desember 2018 18.50

      Duh, sabar ya mbak..semoga keluarga mbak yg merokok segera diberi hidayah, dilema terssndiri ya mbak, mau menegur pasti ada rasa segan dan gak enak, semoga si kecil sehat terus ya mbak

      Hapus
  6. Ya Allah sedihnya, suami saya dulu juga perokok meski saya meminta beliau berhenti, namun ketika anak sakit dan kami bawa ke dokter, dokter langsung mengatakan jika suami masih merokok maka jangan merokok di rumah. Mulai saat itu rumah kami bebas asap rokok, namun saya tak pernah suka dengan suami yang masih merokok. Lewat si sulung saya mengedukasi bahaya merokok, Alhamdulillah berkat si sulung kini suami sudah berhenti merokok. Tak hanya di rumah kami, rumah neneknya pun sudah tak ada asap rokok lagi. Semoga anak-anak kita senantiasa diberikan kesehatan dan keselamatan.

    BalasHapus
  7. Meilawati Nurhani21 Desember 2018 18.52

    Alhamdulillah ya mbak, ikut senang.. hebat bisa membuat suami berhenti merokok, krn utk berhenti butuh tekad yg kuat & support dr orang terdekat.. sangat menginspirasi sekali pengalamannya :D

    BalasHapus
  8. saya tuh paling 'gemes' kalau lihat orang merokok.. kok bisa ya dengan santai merokok di tempat yang ada anak-anak, apalagi di tempat umum..

    BalasHapus
  9. Ya Allah, sedihnya malam-malam baca begini. Lihat Baby bapil aja sudah baper emak sama babehnya. Apalagi kena kaya gitu ya. Astaghfirullah, jauh-jauh deh sama perokok

    BalasHapus
  10. Aku galau setiap bocil panas demam batpil
    Y wlo udh imunisasi lengkap
    Wlo pas priksa gpp cm flu biasa
    Skaligus kesel.klo lht org masih suka ngrokok y wlo swmku g ngrokok
    Kasihan anak2 yg g salah apa2 tp ikut kena dampakny

    BalasHapus
    Balasan
    1. Meilawati nurhani6 Januari 2019 01.52

      Alhamdulillah si kecil ternyata gak kenapa2 ya mbak.. semoga anak2 Kita terhindar dari penyakit berbahaya.. memang harusnya mereka para perokok tdk egois, merokok sembarangan, akhirnya Yg terkena dampak anak kecil Yg Tak tau APA2

      Hapus
  11. Duuh miriiis ya anak sekecil itu jadi korban keegoisan orang dewasa. Semoga anak-anak kita dijauhkan dari penyakit berbahaya ... Aamiin

    BalasHapus
  12. Bungsu saya dulu juga hampir sama, terpapar rokok kena radang bronchitis. Alhamdulillah sekarang sehat dan tumbuh kembangnya normal.

    Sedih pasti bila harus kehilangan buah hati.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Meilawati nurhani6 Januari 2019 01.49

      Inalillahi..Sedih ya bund kalau si kecil harua sakit karena mereka Yg egois, Tak peduli asap rokoknya kelak akan merugikan orang lain.. Mudah2an si kecil selalu diberi kesehatan ya mbak..

      Hapus
  13. Ya Allah...sedihnya...
    Saya baru tau ttg pneumonia. Alhamdulillah dapat pencerahan ilmu yg lengkap.. izin share ke akun medsos ya mbak.
    Saya jg paling anti yg perokok, kmrin baru saja jilbab saya bolong kena api rokok pas naik angkutan.. hiks.. apinya kena tangan pula. Saya yg tak pernah marah jika disakiti akhirnya ngk tahan lgsung ngatain bapak itu pakai sindiran. Cz jilbab saya bolongnya besar...dan tangan saya sakit bget kena apinya. Ya Allah

    Smga para smoker diberi hidayah ya Allah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Meilawati nurhani6 Januari 2019 01.46

      Iya Sama2 mbak..silakan jika ingin dishare..����.. betul mbak asap rokok dikendaraan atu di tempat umum memang sulit dihindari.. malah Kita yg harus susah payah mengindar, sampe ada insiden Kerudung bolong juga ya mbak.. Saya juga sering mengalami kejadian menyebalkan, ingin rasanya menegur tapi belum berani Hehe..

      Hapus