Waspada, Ternyata TBC pada Anak Tidak Selalu Disertai Batuk!

November 06, 2018

Foto : unsplash.com

Sekitar 5 tahun yang lalu saya mengikuti pelatihan analisa Laboratorium untuk menegakkan diagnosis TB yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan RI. Dalam pelatihan ini dijelaskan banyak hal mengenai penyakit TBC ini, mulai dari prevalensi kasus, tata laksana pencegahan dan penanganan, anamnesa, pemeriksaan penunjang, terapi dsb.

Penyakit Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit infeksi mematikan yang banyak terjadi di negara berkembang seperti Indonesia. Berdasarkan data laporan Tuberkulosis,  jumlah kasus TBC anak adalah di Indonesia adalah  sebanyak 8,2% dengan angka bervariasi antara 1,7-15,6% dari tiap provinsi.

Seperti yang kita ketahui bersama, prevalensi kasus TB di Indonesia masih tinggi, hal ini juga disebabkan adanya resistensi antibiotik dikarenakan penderita tidak mentaati prosedur terapi selama 6 bulan. Untuk itu sampai sekarang pemerintah masih fokus menangani masalah ini di tahap preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

Penyakit Tuberkulosis disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menular lewat droplet atau kontak udara dengan penderita TBC.  Jika dalam satu keluarga ada yang positif terkena TB maka anggota keluarga lain disarankan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium, tes tuberkulin, dan foto thorax atau rontgen dada. Bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menetap di paru-paru, bisa juga menyebar ke otak, ginjal, kelenjar getah bening, bahkan ke tulang belakang.

Pada anak, diagnosis TBC jauh lebih sulit dibandingkan orang dewasa. Salah satu penyebabnya, gejala TBC pada anak tidak khas dan tidak selalu ditandai dengan batu, sehingga TBC pada anak seringkai disebut sebagai silent disease. Faktor yang kedua yakni saat pengambilan sample sputum (dahak) pada anak sulit sekali mendapatkan sample yang representatif, meskipun pemeriksaan dahak bukanlah satu-satunya parameter untuk diagnosis TB.

Berdasarkan informasi dari Buku Saku Pelayanan Anak di Rumah Sakit pada Bab Tuberkulosis yang diterbitkan oleh ichrc.org disebutkan bahwa anamnesis yang memungkinkan seorang anak terindikasi TB adalah sebagai berikut :
  • Berkurangnya berat badan 2 bulan berturut-turut tanpa sebab yang jelas atau gagal tumbuh.
  • Demam tanpa sebab jelas, terutama jika berlanjut sampai 2 minggu.
  • Batuk kronik ≥ 3 minggu, dengan atau tanpa wheeze.
  • Riwayat kontak dengan pasien TB paru dewasa.
Jika anak mengalami tanda-tanda tersebut, baiknya bunda langsung berkonsultasi ke dokter untuk tindakan lebih lanjut.

Dalam buku saku tersebut, lebih lanjut dijelaskan untuk memudahkan penegakan diagnosis TB anak, IDAI merekomendasikan diagnosis TB anak dengan menggunakan sistem skoring, yaitu pembobotan terhadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai. Pasien dengan jumlah skor ≥ 6 (sama atau lebih dari 6), harus ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat pengobatan dengan obat anti tuberkulosis (OAT). Bila skor kurang dari 6 tetapi secara klinis kecurigaan ke arah TB kuat maka perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik lainnya sesuai indikasi, seperti bilasan lambung, patologi anatomi, pungsi lumbal, pungsi pleura, foto tulang dan sendi, funduskopi, CT-Scan dan lain-lainnya.

Bakteri Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri yang tahan asam sehingga pengobatannya tidak cukup dengan pemberian antibiotik selama 3-7 hari seperti infeksi bakteri pada umumnya, namun butuh pengobatan yang KONSISTEN selama 6 bulan. Jika pasien tidak disiplin dalam melakukan pengobatan selama 6 bulan, maka bisa terjadi resistensi antibiotik yakni bakteri tersebut akan kebal terhadap antibiotik tersebut sehingga akan menyebabkan kegagalan dalam proses terapi.

Berdasarkan penjelasan diatas, yuk Bunda, mari kita lebih waspada terhadap penularan penyakit TBC terutama pada anak karena antibodi atau daya tahan tubuhnya masih lemah. Belum lagi masa terapinya yang memakan waktu cukup lama lama yakni selama 6 bulan, tentu bukan hal yang mudah jika anak kita di usianya yang masih kecil harus terus-menerus mengonsumsi obat setiap hari tanpa putus selama 6 bulan.








You Might Also Like

9 komentar

  1. Anak saya pernah di diagnosa TBC, tapi saya tidak langsung percaya dan mencari second oppinion bahkan third oppinion..akhirnya alhamdulillaah anak saya baik baik saja dan tidak terkena TBC.
    Semoga anak anak indonesia bebas TBC

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah mba. Betul mba ketika didiaognosis TB baiknya melakukan serangkaian test penunjang yang lengkap agar lebih pasti positif tidaknya, karena ada beberapa dokter yang hanya mengacu berdasarkan 1 atau 2 paramter pemeriksaan saja

      Hapus
  2. Saya jadi ingat, saudara saya waktu balita dulu, pernah kena di paru-parunya. Saat itu pengobatannya lama, 6 bulan tidak boleh putus. Kalau lupa, ngulang lagi dari awal. Memang kasihan kalau balita yang kena..

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mba, pengobatannya lama dan harus konsisten tidak boleh putus, duh kasian sekali ya kalau anak kecil yang terkena TB

      Hapus
  3. Ngerih ya, saya jg ada riwayat paru-paru basah. Waktu TK wajib minum obat 1tahun di jam 7 pagi gak boleh kelewat. Alhamdulillah skrg beranjak dewasa udah gak pernah lagi kambuh. Udah sehat. Makasih mba sharingnya, jadi pengingat untuk selalu menjaga kesehatan.

    BalasHapus
  4. Makasih mbak info dan sharingnya sangat bermanfaat.

    BalasHapus
  5. Makasih mbak info dan sharingnya sangat bermanfaat.

    BalasHapus
  6. Sangat bermanfaat. Beruntung meskipun batuk2 tapi sulung saya ga ada gejala seperti disebut di artikel. Selama ini sering berobat ke dokter spesialis anak gegara batuk.

    BalasHapus
  7. Waktu kecil sy sering sakit sakitan

    Ayah merokok :-(

    BalasHapus